Monday, December 30, 2019

12 PAHLAWAN NASIONAL YANG BERPENGARUH DALAM SEJARAH & KEMERDEKAAN INDONESIA


12 PAHLAWAN NASIONAL YANG BERPENGARUH DALAM SEJARAH dan KEMERDEKAAN INDONESIA


Berikut kami sajikan 12 pahlawan nasional yang berpengaruh dalam sejarah dan kemerdekaan Indonesia.


1.    Ir. Soekarno
12 PAHLAWAN NASIONAL YANG BERPENGARUH DALAM SEJARAH & KEMERDEKAAN INDONESIA


-     Sukarno / Soekarno / Ir. Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945-1966.
Sukarno juga merupakan Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang
terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa
Indonesia dari penjajahan Belanda.
-      Selain sebagai  tokoh proklamator  dan Presiden Indonesiyang pertama, Soekarno juga dikenal sebagai pencetus dasar Negara Pancasila, karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan Soekarno pula yang menamainya Pancasila. Tidak hanya itu saja, dia juga adalah seorang orator yang handal dan politikus cerdas yang menguasai delapan bahasa. Tokoh bangsa yang dikenal dengan sapaan Bung Karno ini selalu bisa menggetarkan hati para pendengarnya saat berpidato.
-      Soekarno lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901. Ia meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Sebelum  meninggal  Soekarno  telah  dinyatakan  mengidap  gangguan  ginjal  dan  pernah  menjalani perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964. Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat, namun Soekarno menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional

2.    Mohammad Hatta

12 PAHLAWAN NASIONAL YANG BERPENGARUH DALAM SEJARAH & KEMERDEKAAN INDONESIA

-     Mohammad Hatta / Bung Hatta merupakan salah seorang proklamator. Sejak muda, pria kelahiran Bukittinggi,
12 Agustus 1902 dan lulusan Belanda ini sudah dikenal sebagai aktivis dan organisatoris, hingga jadi seorang negarawan yang sering mendampingi Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
-      Bung Hatta bersama Soekarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan  Belanda  sekaligus  memproklamirkannya  pada  17  Agustus  1945.  Ia  juga  pernah  menjabat
sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Kemudian Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Selama menjabat sebagai wakil
presiden, Hatta aktif menulis dan berbagi ilmu mengenai koperasi. Perannya tersebut membuat beliau dijuluki
sebagai Bapak Koperasi.
-     Mohammad Hatta / Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902. Ia meninggal di Jakarta,
14 Maret 1980 pada umur 77 tahun. Setelah wafat, Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Bung Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Bung Karno. Pada 7 November 2012,
Bung Hatta secara resmi bersama dengan Bung Karno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
sebagai Pahlawan Nasional.

3.    Soedirman
12 PAHLAWAN NASIONAL YANG BERPENGARUH DALAM SEJARAH & KEMERDEKAAN INDONESIA

-      Soedirman / Panglima tentara pertama Jenderal Besar TNI Anumerta Soedirman adalah seorang pahlawan nasional  Indonesia  yang  berjuang  pada  masa  Revolusi  Nasional  Indonesia.  Dalam  sejarah  perjuangan Republik  Indonesia, ia  dicatat sebagai  Panglima  dan  Jenderal Ryang pertama  dan termuda. Saat  usia Soedirman 31 tahun ia telah menjadi seorang jenderal.
-      Soedirman diangkat sebagai panglima besar pada 18 Desember 1948. Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Beliau mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

-      Meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1950 ia wafat karena penyakit tuberkulosis tersebut dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916 dan meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun.

4.    Diponegoro
-     Diponegoro / Pangeran Diponegoro dikenal karena memimpin Perang Diponegoro di Jawa pada kurun waktu
1825-1830, yang tercatat sebagai perang dengan korban paling banyak dalam sejarah Indonesia. Selama lima tahun, perang terbuka terjadi di sejumlah daerah utam di hampir seluruh Pulau Jawa. Belanda pun sempat
kesulita menaklukkan   Pangeran   Diponegoro,   dimana   ribuan   serdadu   merek menjadi   korban   dan menyebabkan kerugian 20 juta gulden.
-     Pangeran  Diponegoro  adalah  putra  sulung  dari  Sultan  Hamengkubuwana  III,  raja  ketiga  di  Kesultanan
Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan. Semasa
kecilnya, Pangeran Diponegoro bernama Bendara Raden Mas Antawirya. Pangeran Diponegoro meninggal di
Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun.

5.    Hasyim Asyari
-   Hasyim Asyari / Kyai Haji Mohammad Hasyim Asyarie adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri NU / Nahdlatul Ulama, dimana organisasi ini merupakan organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan ulama pesantren dan Nahdliyin ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.
-   K.H. Hasjim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Siwalan di Sidoarjo dan Pesantren Kademangan di Bangkalan.
-   Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asyari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.
-   Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah  satu  pemrakarsa  berdirinya  Nadhlatul  Ulama  (NU),  yang  berarti  kebangkitan  ulama. Hasyim  Asyari sendiri lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, 10 April 1875. Ia meninggal di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli
1947 pada umur 72 tahun dan dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang.


6.    Ahmad Dahlan
-    Muhammad Darwis / Ahmad Dahlan / Kyai Haji Ahmad Dahlan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H Abu Bakar sendiri adalah seorang ulama & khatib tersohor di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu
dari  K.H.  Ahmad  Dahlan  merupakan  puteri  dari  H.  Ibrahim  yang  juga  menjabat  penghulu  Kesultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat pada kala itu.
-    Pada umur 15 tahun, Ahmad Dahlan pergi haji dan tinggal di Mekah selama 5 tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran dan gagasan pembaharu dalam Islam, seperti Al-Afghani, Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyah dan Rasyid Ridha. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Selanjutnya Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan tinggal selama 2 tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari KH. Hasyim Asyari, pendiri NU.
-    Pada 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta. Hal tersebut untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal sesuai tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Sejak awal Ahmad Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
-    Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, dari keluarga serta dari masyarakat sekitarnya. Bermacam tuduhan, fitnahan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ahmad Dahlan  dituduh  hendak  mendirikan  agama  baru  yang  melanggar  agama  Islam.  Ada  yang  mengecapnya sebagai kyai palsu karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di sekolah Belanda, dan bermacam-macam tuduhan lain. Karena saat itu Ahmad Dahlan sempat mengajar agama Islam di sekolah OSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Ahmad Dahlan sendiri lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868. Ia meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun.

7.    Ki Hajar Dewantara
-    Raden  Mas Soewardi  Soerjaningrat  sejak  1922 menjadi  KHadjar Dewantara,  adalah  aktivis  pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan

kesempatan  bagi  para  pribumi  jelata  untuk  bisa  memperoleh  hak  pendidikan  seperti  halnya  para  priyayi maupun orang-orang Belanda.
-    Sehingga nama Ki Hajar Dewantara identik dengan dunia pendidikan Indonesia. Bahkan, hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 2 Mei pun diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sampai saat ini bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.
-    Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Ia meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Setelah meninggal Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28
November 1959).

8.    Bung Tomo
-    Sutomo / Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA yang berakhir dengan pertempuran
10 November 1945. Pada pertempuran tersebut Pejuang sekaligus tokoh jurnalis asal Surabaya ini berhasil mengobarkan semangat juang rakyat Indonesia dengan semboyan “Merdeka atau Mati dalam pertempuran
besar melawan pasukan penjajah di Surabaya. Dimana peristiwa tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari
Pahlawan.
-    Sutomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. ia meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

9.    Pattimura
-    Thomas Matulessy / Pattimura / Kapitan Pattimura merupakan panglima perang dalam perjuangan rakyat Maluku melawan VOC Belanda. Di bawah komando Pattimura, sejumlah kerajaan Nusantara seperti Ternate dan Tidore bersatu menghadapi penjajah pada tahun 1817.
-    Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para raja maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan melawan Belanda ia menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Sulawesi, Bali
dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk melawan
Pattimura.
-    Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di laut dan di darat dikoordinir Kapitan  Pattimura  yang  dibantu  oleh  para  penglimanya  antara  lain  Anthoni  Rebhok,  Melchior  Kesaulya, Ulupaha dan Philip Latumahina. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat salah satunya seperti perebutan benteng Belanda Duurstede dan pertempuran di pantai Waisisil. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan tipu muslihat dan politik adu domba belanda. Pattimura dan para tokoh pejuang akhirnya tertangkap dan digantung di Ambon pada 16 Desember 1817.
-    Thomas Matulessy / Pattimura lahir di pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783. Ia meninggal di Ambon, Maluku, 16
Desember 1817 pada umur 34 tahun. Kini namanya pun dikenang sebagai pahlawan nasional, dan dijadikan
nama jalan, stadion dan universitas

10. Imam Bonjol
-    Muhammad Shahab / Tuanku Imam Bonjol merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki,  Lima  Puluh  Kota.  Sebagai  ulama  dan  pemimpin  masyarakat  setempat,  Imam  Bonjol memperoleh
beberapa gelar, yaitu Malin Basa, Peto Syarif dan Tuanku Imam. yang akhirnya lebih dikenal dengan sebutan
Tuanku Imam Bonjol.
-    Perlawanan heroik ditunjukkan oleh Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Padri di Sumatera Barat. Selama lima tahun, dia bersama pasukannya berhasil membuat penjajah kesulitan menghadapi Kaum Padri, hingga pada Oktober 1837 Pihak belanda mengundang Tuanku Imam Bonjol ke Palupuh untuk berunding. Namun setibanya di  tempat perundingan  Imam Bonjol  langsung  ditangkap  dan dibuang ke Cianjur, Jawa BaratKemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Dahsyatnya pertempuran dan perlawanan Imam Bonjol ini, akhirnya diabadikan dalam bentuk museum dan Monumen Imam Bonjol yang berlokasi di Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
-    Muhammad Shahab / Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pada tahun 1772. Ia meninggal  dalam  pengasingan  dan  dimakamkan  di  Lotak,  Pineleng,  Minahasa,  November  1864.  Kini namanya pun dikenang sebagai pahlawan nasional serta hadir dan disematkan di berbagaruang publik bangsa sebagai nama jalan, nama universitas, nama stadion, bahkan pada lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.

11. Kartini
-    Raden Adjeng Kartini / Raden Ayu Kartini merupakan Salah seorang pahlawan nasional perempuan ini telah menghabiskan  sebagian  hidupnya  untuk  memperjuangkan  kesetaraan  hak  kaumnya  dan  dikenal  sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. meskipun RA Kartini sendiri merupakan seorang perempuan ningrat
namun memiliki pemikiran moderat
-    Beliau  sempat  mendapatkan  beasiswa  dari  Pemerintah  Belanda  karena  tulisan-tulisan  hebatnya,  namun ayahnya pada saat itu memutuskan agar Kartini harus menikah dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang kala ituyang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November

1903.  Sejak  itu,  Kartini  harus  hijrah  dari  Jepara  ke  Rembang  mengikuti  suaminya.  Suaminya  mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
-    Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
-    Setelah Kartini wafat, Mr.J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.Kartini  pada  teman-temannya  di  Eropa. Abendanon  saat itu menjabat  sebagaMenteri  Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
-    Raden Adjeng Kartini / Raden Ayu Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879. Ia meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. untuk mengenang perjuangannya, tanggal lahirnya pada 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

12. Cut Nyak Dhien
-    Cut Nyak Dhien / Tjut Njak Dhien merupakan salah seorang pahlawan nasional perempuan dari Aceh. Dia ikut memimpin perlawanan rakyat terhadap Belanda pada masa Perang Aceh, Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga (suami pertama) berjuang melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan
bersumpah akan menghancurkan Belanda.
-    Kemudian Teuku Umar (suami kedua), salah satu tokoh yang melawan Belanda melamar Cut Nyak Dhien.
Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar mengijinkannya ikut dalam medan perang,
Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Setelah menikah dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bersama Teuku Umar berjuang bersama melawan Belanda. Namun, Teuku Umar gugur pada tanggal 11 Februari 1899 saat menyerang Meulaboh, sehingga ia berjuang sendirian di pelosok Meulaboh
bersama pasukan kecilnya.
-    Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakit rabun dan encok, sehingga karena iba (kasihan) salah seorang pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya. Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh oleh belanda. Di sana ia dirawat dan penyakitnya perlahan membaik. Namun, keberadaannya mengakibatka bertambahny semangat   perlawanan   rakyat   Aceh   terhada belanda.   I jug masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Akibatnya, Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang.
-    Cut Nyak Dhien lahir di Aceh, tahun 1848. Ia meninggal di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908 pada umur 5960 tahun dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Kini namanya pun dikenang sebagai pahlawan nasional, dan diabadikan sebagai Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya di Meulaboh.

Demikian artikel tentang 12 pahlawan nasional yang berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan RI. semoga bermanfaat artikel ini.

No comments:

Post a Comment