Prinsip-prinsip dan implementasi dalam Bhinneka Tunggal Ika
Oke lanjut dimateri tes wawasan kebangsaan bagian ketiga adalah berlajar tentang prinsip prinsip bhineka tunggal ika dan implementasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai pancasila dan undang undang 1945. Memang tes SKD CPNS bagian wawasan nusantara memiliki ranah cakupan materi yang sangat luas, namun jangan gentar kita akan sediakan materi materi penunjang agar anda bisa belajar dan memahaminya. perhatikan deskripsi materi berikut ini.
Dari frase-frase yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut jelas bahwa prinsip kebangsaan mewarnai kehidupan
berbangsa dan
bernegara bagi
bangsa
Indonesia. Istilah individu
atau konsep individualisme tidak terdapat dalam Pembukaan UUD 1945.
Dengan kata lain bahwa sifat pluralistik yang diterapkan di Indonesia tidak berdasar pada
individualisme dan liberalisme.
Pluralitas atau pluralistik tidak merupakan suatu faham, isme atau keyakinan yang bersifat mutlak. Untuk itu tidak perlu dikembangkan ritual-ritual tertentu seperti halnya agama.
Prinsip pluralistik dan multikulturalistik adalah asas yang mengakui adanya kemajemukan bangsa dilihat dari segi agama,
keyakinan, suku
bangsa, adat budaya, keadaan daerah, dan ras. Kemajemukan tersebut dihormati dan dihargai serta didudukkan dalam suatu prinsip yang dapat mengikat keanekaragaman tersebut
dalam kesatuan yang kokoh. Kemajemukan
bukan dikembangkan dan
didorong
menjadi
faktor pemecah
bangsa, tetapi merupakan kekuatan yang dimiliki oleh masing-
masing komponen bangsa,
untuk selanjutnya diikat secara sinerjik menjadi kekuatan yang luar biasa untuk dimanfaatkan dalam menghadapi segala tantangan dan persoalan bangsa
Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika
Untuk dapat mengimplementasikan Bhinneka
Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dipandang perlu untuk memahami
secara mendalam prinsip-prinsip yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal
Ika. Prinsip-prinsip tersebut
adalah
sebagai berikut :
1.
Dalam rangka membentuk kesatuan dari keaneka ragaman tidak terjadi pembentukan konsep baru dari keanekaragaman konsep-konsep yang terdapat pada unsur-unsur atau komponen bangsa. Suatu contoh di negara tercinta ini terdapat begitu aneka ragam agama dan kepercayaan. Dengan ke-tunggalan Bhinneka Tunggal
Ika
tidak dimaksudkan untuk membentuk agama
baru. Setiap
agama
diakui seperti apa
adanya, namun
dalam kehidupan
beragama
di
Indonesia dicari
common
denominator, yakni prinsip-prinsip yang ditemui dari setiap agama yag memiliki kesamaan, dan common denominator ini yang kita pegang sebagai ke-tunggalan, untuk kemudian dipergunakan sebagai acuan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Demikian pula halnya dengan
adat budaya daerah, tetap
diakui eksistensinya
dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia
yang berwawasan kebangsaan. Faham Bhinneka Tunggal
Ika,
yang oleh Ir Sujamto disebut sebagai faham Tantularisme, bukan faham sinkretisme,
yang mencoba untuk mengembangkan konsep baru dari unsur
asli dengan unsur yang datang dari luar.
2.
Bhinneka Tunggal Ika tidak
bersifat sektarian
dan eksklusif; hal
ini
bermakna
bahwa dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara tidak dibenarkan merasa dirinya yang paling benar,
paling hebat, dan tidak mengakui harkat dan martabat pihak
lain. Pandangan sektarian dan eksklusif ini akan memicu terbentuknya keakuan yang berlebihan dengan
tidak atau kurang memperhitungkan pihak lain, memupuk kecurigaan, kecemburuan, dan persaingan yang tidak sehat. Bhinneka Tunggal Ika bersifat
inklusif. Golongan
mayoritas dalam hidup berbangsa
dan bernegara tidak memaksakan kehendaknya pada golongan
minoritas.
3. Bhinneka
Tunggal
Ika
tidak
bersifat formalistis yang hanya menunjukkan
perilaku semu. Bhinneka Tunggal Ika dilandasi
oleh sikap saling percaya mempercayai, saling hormat menghormati, saling cinta mencintai dan rukun.
Hanya dengan cara
demikian maka keanekaragaman ini dapat dipersatukan.
4.
Bhinneka Tunggal Ika bersifat konvergen tidak divergen, yang bermakna perbedaan yang terjadi dalam keanekaragaman
tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi
dicari titik temu, dalam bentuk kesepakatan bersama. Hal ini akan
terwujud apabila dilandasi oleh sikap toleran, non sektarian,
inklusif,
akomodatif, dan rukun.
Prinsip atau
asas pluralistik dan multikultural Bhinneka Tunggal Ika mendukung nilai: (1) inklusif, tidak bersifat eksklusif, (2) terbuka, (3)ko-eksistensi damai dan kebersamaan, (4) kesetaraan, (5) tidak merasa yang paling benar, (6) tolerans, (7)
musyawarah disertai dengan penghargaan terhadap pihak lain yang berbeda.
Suatu masyarakat yang tertutup atau eksklusif sehingga tidak memungkinkan terjadinya perkembangan tidak mungkin menghadapi arus globalisasi yang demikian deras dan
kuatnya, serta dalam menghadapi
keanekaragaman
budaya bangsa. Sifat terbuka yang terarah merupakan syarat bagi berkembangnya masyarakat modern. Sehingga keterbukaan dan berdiri sama tinggi serta duduk sama rendah, memungkinkan
terbentuknya masyarakat yang pluralistik secara ko-eksistensi, saling hormat menghormati, tidak merasa dirinya yang paling
benar dan tidak memaksakan kehendak yang
menjadi keyakinannya
kepada pihak
lain.
Segala
peraturan perundang-
undangan khususnya peraturan daerah harus mampu mengakomodasi masyarakat
yang pluralistik dan multikutural, dengan
tetap berpegang teguh pada dasar
negara Pancasila dan UUD
1945. Suatu
peraturan perundang-undangan, utamanya peraturan daerah yang memberi peluang terjadinya perpecahan bangsa, atau yang
semata-mata untuk mengakomodasi kepentingan unsur bangsa harus
dihindari. Suatu contoh persyaratan untuk jabatan daerah harus
dari
putra daerah , menggambarkan sempitnya kesadaran nasional yang semata-mata untuk memenuhi aspirasi kedaerahan, yang akan mengundang
terjadinya perpecahan.
Hal ini tidak mencerminkan penerapan
prinsip
Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut secara konsisten akan terwujud masyarakat
yang damai, aman, tertib, teratur, sehingga kesejahteraan dan keadilan akan terwujud.
Implementasi Bhineka Tunggal Ika
Setelah kita
fahami beberapa prinsip yang terkandung dalam
Bhinneka Tunggal Ika, maka
langkah selanjutnya adalah bagaimana prinsip-prinsip Bhinneka Tunggal Ika ini diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
1.
Perilaku inklusif.
Di depan telah dikemukakan bahwa salah satu prinsip yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika adalah sikap inklusif.
Dalam kehidupan bersama yang menerapkan semboyan Bhinneka Tunggal
Ika
memandang bahwa dirinya, baik itu sebagai individu atau kelompok masyarakat merasa dirinya hanya merupakan sebagian dari kesatuan dari masyarakat yang lebih luas.
Betapa besar dan penting kelompoknya dalam kehidupan bersama, tidak memandang rendah dan menyepelekan kelompok
yang lain. Masing-masing memiliki peran yang tidak dapat diabaikan,
dan bermakna bagi kehidupan bersama.
2.
Mengakomodasi sifat pluralistik
Bangsa Indonesia sangat pluralistik ditinjau dari keragaman agama yang dipeluk oleh masyarakat, aneka adat budaya yang berkembang di
daerah, suku bangsa dengan bahasanya masing-masing, dan menempati
ribuan pulau yang tiada jarang terpisah demikian jauh pulau yang satu dari
pulau yang lain. Tanpa memahami makna pluralistik dan bagaimana cara mewujudkan persatuan dalam keanekaragaman secara tepat, dengan mudah terjadi disintegrasi bangsa. Sifat toleran, saling
hormat menghormati, mendudukkan masing-masing
pihak sesuai dengan peran, harkat dan martabatnya secara tepat, tidak
memandang remeh pada pihak lain, apalagi menghapus eksistensi kelompok dari kehidupan bersama,
merupakan syarat bagi lestarinya negara-bangsa Indonesia. Kerukunan hidup perlu dikembangkan dengan sepatutnya. Suatu
contoh sebelum terjadi reformasi, di
Ambon berlaku suatu pola kehidupan bersama yang disebut pela gandong, suatu pola kehidupan masyarakat
yang tidak
melandaskan
diri
pada
agama, tetapi semata-mata
pada kehidupan
bersama pada wilayah tertentu. Pemeluk
berbagai agama berlangsung sangat rukun, bantu membantu dalam kegiatan yang tidak bersifat ritual keagamaan. Mereka
tidak membedakan suku-suku yang berdiam
di wilayah tersebut, dan sebagainya. Sayangnya dengan terjadinya reformasi yang mengusung kebebasan, pola kehidupan masyarakat yang demikian ideal ini telah tergerus arus
reformasi.
3.
Tidak mencari menangnya sendiri
Menghormati pendapat pihak lain,
dengan tidak beranggapan bahwa pendapatnya sendiri yang paling benar, dirinya atau
kelompoknya
yang paling hebat perlu diatur
dalam menerapkan
Bhinneka Tunggal
Ika. Dapat menerima
dan
memberi pendapat merupakan hal yang harus
berkembang dalam kehidupan
yang beragam. Perbedaan ini tidak untuk dibesar-
besarkan, tetapi dicari
titik temu. Bukan dikembangkan divergensi, tetapi
yang harus diusahakan adalah terwujudnya konvergensi dari berbagai keanekaragaman.
Untuk itu perlu dikembangkan musyawarah untuk mencapai mufakat.
4.
Musyawarah
untuk mencapai mufakat
Dalam rangka membentuk kesatuan dalam keanekaragaman diterapkan pendekatan “musyawa-rah untuk mencapai mufakat.”
Bukan pendapat sendiri yang harus dijadikan kesepakatan bersama, tetapi common denominator,
yakni inti kesamaan yang dipilih sebagai kesepakatan bersama. Hal ini hanya akan tercapai dengan proses musyawarah untuk mencapai
mufakat.
Dengan cara ini segala gagasan yang timbul diakomodasi dalam kesepa-katan. Tidak ada yang menang tidak ada yang kalah.
Inilah yang biasa disebut sebagai win win solution.
5.
Dilandasi rasa kasih
sayang dan rela berkorban
Dalam menerapkan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu dilandasi oleh rasa kasih sayang. Saling curiga mencurigai harus dibuang jauh-jauh. Saling percaya mempercayai
harus dikembangkan, iri hati, dengki harus dibuang dari kamus Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini akan berlangsung apabila pelaksanaan Bhnneka Tunggal Ika menerap-kan
adagium “leladi sesamining dumadi, sepi ing pamrih, rame ing gawe, jer basuki mowo beyo.” Eksistensi kita di
dunia adalah
untuk memberikan pelayanan kepada pihak lain, dilandasi oleh tanpa pamrih pribadi dan golongan, disertai dengan pengorbanan. Tanpa pengorbanan,
sekurang-kurangnya mengurangi kepentingan dan pamrih pribadi,
kesatuan tidak mungkin
terwujud.
Demikian artikel tentang prinsip prinsip dan implementasi bhineka tunggal ika. Semoga dengan artikel ini akan bisa membantu belajar anda dalam menggali soal soal tes wawasan kebangsaan CPNS. Senantiasa belajar akan meningkatkan pemahaman anda dalam mengusai materi skd cpns.

No comments:
Post a Comment